Belajar dan Mengajar
  • Depan
  • Mata Pelajaran
    • Pendidikan Agama Islam
    • Pendidikan Kewarganegaraann
    • Bahasa Arab
    • Bahasa inggris
    • Bahasa Indonesia
    • Bahasa Jawa
    • Matematika
    • Ilmu Pengetahuan Alam
    • Ilmu Pengetahuan Sosial
    • Teknologi Informasi dan Komunikasi
  • Kelas
    • Kelas Tujuh
      • Kelas Tujuh A
      • Kelas Tujuh B
      • Kelas Tujuh C
      • Kelas Tujuh D
      • Kelas Tujuh E
    • Kelas Delapan
      • Kelas Delapan A
      • Kelas Delapan B
      • Kelas Delapan C
      • Kelas Delapan D
      • Kelas Delapan E
    • Kelas Sembilan
      • Kelas Sembilan A
      • Kelas Sembilan B
      • Kelas Sembilan C
      • Kelas Sembilan D
      • Kelas Sembilan E
    • Kelas Digital
  • Ekstra kurikuler
    • Wajib
    • Pilihan
  • Blog Asatidz
    • di pesan
    • belum di pesan
  • Home
  • Business
    • Internet
    • Market
    • Stock
  • Downloads
    • Dvd
    • Games
    • Software
      • Office
  • Parent Category
    • Child Category 1
      • Sub Child Category 1
      • Sub Child Category 2
      • Sub Child Category 3
    • Child Category 2
    • Child Category 3
    • Child Category 4
  • Featured
  • Health
    • Childcare
    • Doctors
  • Uncategorized

Opsi seorang pendidik menghadapi anak-anak yang bermasalah

 Penulis     8:29 AM     Pendidikan     No comments   

Tolok ukur keberhasilan seorang guru dapat ditentukan berdasarkan sikap dan perilaku anak-anak
didiknya. Sebagai pendidik, seorang guru akan merasa berhasil apabila anak-nak didiknya mau bekerjasama dalam proses belajar mengajar. Makna kerjasama adalah bersama-sama melakukan tugas dalam rangka proses pembelajaran. Tetapi adakalanya sikap dan perilaku anak-anak didik menyebabkan seorang guru tidak tahan dan ingin cepat-cepat menyelesaikan sesi pembelajarannya.

Sebenarnya sikap dan tingkah laku anak-anak yang tidak mau bekerjasama merupakan dampak permasalahan dalam proses perkembangannya. Banyak anak yang bahkan harus kehilangan masa kanak-kanaknya karena orang tua yang sibuk. Sementara anak-anak lainnya dibesarkan oleh pengasuh(nanny). Anak-anak itu diharuskan mandiri sebelum waktunya, akibatnya mereka mengalami stress atau bahkan depresi.

Apa yang harus dilakukan seorang guru? Sebagai seorang pendidik di sekolah, guru dituntut berperan sebagai orang tua. Seorang guru harus mengerti bahwa dimanapun anak-anak berada, baik di sekolah maupun di rumah, tidak banyak bedanya. Berikut adalah tujuh opsi yang sangat bermanfaat dan efektif untuk diterapkan di rumah maupun di sekolah.

1. Memberi penjelasan apabila ada masalah atau kejadian insidentil di kelas. Misalnya, seusai kelas melukis ada cat air yang tumpah di lantai. Sebaiknya seorang guru berkata,”Lihat, di lantai ada tumpahan cat air”. Atau ketika guru mendapatkan kertas ujian tanpa nama. Sebaiknya seorang guru berkata,”Kenapa saya dapat kertas yang tidak ada namanya?” Juga apabila anak-anak asik ngobrol di kelas. Seorang guru boleh permisi keluar kelas sebentar untuk kemudian kembali dan mengatakan bahwa suara mereka sangat jelas terdengar sampai hall atau ruangan lain.

2. Berperan sebagai seorang informan. Misalnya, suatu hari guru menemukan ada meja yang dicoret atau anak-anak mencoret meja. Sebaiknya guru mengatakan bahwa meja bukan tempat untuk menuliskan sesuatu, tetapi kertas. Atau di kelas komputer ada anak yang menggoreskan sesuatu di atas disket komputer. “Disket komputer tidak bisa lagi dipakai jika tergores atau kotor”.

3. Memberikan pilihan/opsi. Misalnya, setelah seorang anak selesai membuat bentuk bangunan dengan balok atau lego, dia tidak mau membereskannya. “ Bagus sekali istana yang kamu buat! Pasti kamu akan membuat istana lagi besok. Kalau begitu kamu boleh menyimpan balok-balok itu di dalam rak yang sudah disediakan atau ke dalam kotak itu”.

4. Memberi perintah dengan pesan singkat atau satu kata. Misalnya, seorang anak tidak memulai kalimat dengan huruf besar. Katakan, “Huruf besar!” Atau setelah seorang anak membuka pintu tetapi tidak menutupnya kembali, “ Pintu!”.

5. Berkomunikasi dengan gerakan atau bahasa tubuh. Misalnya kelas sangat gaduh, seorang guru menempelkan jari telunjuknya ke mulut.

6. Mengungkapkan perasaan anda. Misalnya anda sedang menerangkan pelajaran, sementara anak-anak ngobrol. “ Saya merasa sedih dan frustrasi kalau tidak ada yang mau mendengarkan saya”.

7. Menyampaikan pesan atau perintah melalui tulisan. Misalnya guru menyediakan kotak dimana tugas-tugas dikumpulkan; di kotak tersebut dituliskan pesan “ Akan lebih baik kalau mencantumkan nama dan tanggal”.
  • Share This:  
  •  Facebook
  •  Twitter
  •  Google+
  •  Stumble
  •  Digg
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke Facebook
Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda

0 Comments:

Posting Komentar

Popular Posts

Recent Posts

Categories

Unordered List

recent/hot-posts

Pages

  • Beranda

Text Widget

Blog Archive

  • ►  2019 (3)
    • ►  Januari (3)
      • ►  Jan 31 (1)
      • ►  Jan 10 (2)
  • ►  2014 (17)
    • ►  April (16)
      • ►  Apr 08 (2)
      • ►  Apr 04 (4)
      • ►  Apr 03 (6)
      • ►  Apr 02 (1)
      • ►  Apr 01 (3)
    • ►  Februari (1)
      • ►  Feb 26 (1)
  • ►  2013 (1)
    • ►  September (1)
      • ►  Sep 27 (1)
  • ►  2011 (1)
    • ►  November (1)
      • ►  Nov 01 (1)
  • ▼  2009 (6)
    • ▼  November (1)
      • ▼  Nov 25 (1)
        • Opsi seorang pendidik menghadapi anak-anak yang be...
    • ►  September (1)
      • ►  Sep 04 (1)
    • ►  Juli (4)
      • ►  Jul 28 (4)
  • ►  2008 (2)
    • ►  Mei (1)
      • ►  Mei 22 (1)
    • ►  April (1)
      • ►  Apr 24 (1)

Alhamdulillah

Copyright © Belajar dan Mengajar | Powered by Blogger
Design by Hardeep Asrani | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com | Distributed By Gooyaabi Templates